blue;">

Senin, 02 April 2012

Tetesan Air Mata di Hari Raya

Lebaran tinggal menghitung hari, banyak orang yang tersenyum ceria siap-siap menyambut hari kemenangan dengan penuh kebahagiaan, tapi tidak untuk Rani. Rani harus banyak menghela nafas dan mengusap dada setiap kali teman-teman setingkatannya di kelas 4 SD saling menunjukan baju baru yang dibelikan oleh orang tuanya masing-masing. Bagi Rani untuk lebaran yang ketiga kalinya ini ia harus kembali berlebaran seadanya, membuang angan-angan untuk mendapatkan “sepatu kaca” seperti yang sering ia lihat di telapak kaki teman-temannya.

Tiga tahun lebih sudah, Ayah Rani merantau ke negeri Jiran, jangankan mengirimkan sejumlah uang untuk membelikan baju lebaran, berkirim kabarpun tidak. Ibunya yang hanya bisa mengais rejeki dari mencuci pakaian tetangga sekitarnya tidak sanggup untuk membelikan yang Rani inginkan. Beruntung, meskipun masih kecil Rani sudah mampu mengendalikan hasratnya, paling tidak dihadapan ibunya. Rani tidak mau ibunya semakin terbebani dengan kemauan-kemauannya. Rani tahu, meskipun ibunya tidak mampu membelikan apa yang ia inginkan bukan berarti ibunya tidak memahami apa yang diinginkannya. Walau kadang di belakang ibunya tak kuat lagi meneteskan air mata, ia terus berusaha tersenyum ceria sebisa mungkin dihadapan ibunya.

Adakalanya, lebaran adalah salah satu momen yang kurang Rani sukai. Ingin sekali rasanya kalau hidup ini tidak ada lebaran, tidak ada hari yang harus membuat ia bersedih. Tapi Ranipun sadar, tidak ada yang salah dengan hari lebaran, yang salah adalah ketika kita salah menyikapi dan merayakannya. Dan meskipun demikian, Rani sangat bersyukur betul mempunyai ibu yang benar-benar pahlawan, inspirator dan motivator bagi dirinya.

Malam menjelang lebaranpun tiba, sayup-sayup suara takbir dari berbagai surau kampung akhirnya meruntuhkan benteng senyuman Rani. Ia tak kuat lagi menahan air matanya yang sudah bergelayut kuat di pelupuk mata. Sebisa mungkin ia menahan air matanya, tapi memang ia sudah tak sanggup lagi, bibirnya kelu, alur napasnya terbata-bata, seketika ia peluk ibunya dengan erat-erat, sang ibupun tak sanggup membendung air matanya. Ibu dan putri darah dagingnya berpelukan dengan penuh deraian air mata.

Lebih dari sepuluh menit lamanya Rani dan ibunya berpelukan, selain tangisan tak ada satu katapun yang terucap dari keduanya. Sebagai seorang ibu, ibu Rani faham betul apa yang sedang dirasakan didalam diri putri semata wayangnya. “Maafin Rani Bu….. maafin Rani…”, suara Rani memecah suasana yang penuh tangisan. Ibu Rani tidak menjawab satu katapun, beliau belum bisa mengendalikan nafas dan tangisannya. “Maafin Rani ya Bu…..” lirih Rani seperti penuh rasa sesal dan bersalah. Ibu Rani hanya bisa menganggukan kepala dengan air mata yang terus bercucuran dipipinya.

“Maafin Rani bu, Rani sudah banyak menyusahkan ibu, Rani sudah banyak menjadi beban pikiran ibu, Rani sudah membuat ibu bersedih…”. Rani merasa berdosa, merasa berdosa karena ia tidak mampu membendung air matanya sehingga membuat ibunyapun larut dalam tangisan, padahal ia sama sekali tidak ingin membuat ibunya bersedih, Rani sadar bahwa ibunya sudah banyak melakukan segalanya melebih batas kewajiban sebagai orang ibu.

Ibu Rani, masih tersedu-sedu dalam tangisan, serasa bingung mau menjawab apa. Banyak hal yang membuat mereka bersedih. Penjelasan apa yang harus disampaikan pada Rani, membuat ibu Rani semakin bersedih. Keduanya sama-sama tahu dan sama-sama saling memahami. Persis malam itu hanya Rani, Ibu Rani, Malaikat, dan Allah saja yang tahu apa yang sedang dirasakan oleh Rani dan Ibunya, dimana saat bersamaan orang-orang disekitar rumah Rani sedang riang gembira bercengkerama dengan seluruh anggota keluarganya.

-oOo-

Sobat, sepenggal cerita fiksi (yang mungkin ada dikenyataanya) singkat diatas menggambarkan tidak semua orang bisa tersenyum penuh ceria seperti kebanyakan orang. Ada yang bersedih karena tidak bisa berkumpul bersama keluarga, karena mereka harus bekerja jauh dari keluarga atau bahkan harus menuntut ilmu di negeri orang, atau karena orang yang terkasihi sudah tidak lagi hidup di alam yang sama. Ada yang bersedih karena tidak bisa membeli baju baru sementara orang-orang disekitarnya begitu ramai yang membicarakan hal tersebut. Banyak yang kondisinya tidak jauh lebih baik dari gambaran cerita diatas. Tapi bagaimanapun tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur.

Sobat, disaat kita tidak bisa berlebaran bersama keluarga






Kisah Kain Batik dan Kain Kafan
Sebuah toko kain yang sangat terkenal mendapat pesanan kain BATIK dan kain KAFAN pada hari yang sama. Kain BATIK telah dipesan oleh seorang pejabat negara dan kain KAFAN yang telah dipesan oleh keluarga seorang alim ulama yang soleh dan menjadi teladan untuk masyarakat. Sebelum kain-kain tersebut dibawa oleh pemesannya, terjadilah percakapan antara kain KAFAN dan kain BATIK………….

BATIK: “Hey….kain mayit. Selamat tinggal ya?! Sebentar lagi kamu mau masuk ke kubur. Ha…ha….ha….”

KAFAN: “Ya….terimaksih saudaraku sudah memberikan selamat untukku.”

BATIK: “Kasihan banget ya nasibmu. Kain murahan, dipakein buat bangkai manusia pula. Aku dong nih kain mahal, ada coraknya, bisa dibanggain sama yang make, apalagi jadi rebutan INDONESIA sama MALAYSIA. Ha….ha…ha….”

KAFAN: “Aku bangga kok biarpun cuma jadi kain KAFAN…”

BATIK: “Apanya yang bisa dibanggain??? Sebentar lagi kamu naik keranda menuju kubur yang gelap. Sedangkan aku akan naik mobil mewah dan menuju ke hotel berbintang tempat resepsi pernikahan. Aku akan dilihat artis, pejabat-pejabat tinggi dan orang-orang hebat lainnya…..”

KAFAN: “Tidak apa-apa aku naik keranda. Aku bahagia karena dalam perjalananku orang-orang akan melafalkan tasbih,tahmid,tahlil,takbir serta do’a yang akan membuat jenazah yang memakaiku nyaman dalam keranda. Aku juga akan bertemu malaikat penjaga kubur. Aku siap menjadi saksi saat manusia soleh yang mengenakanku ditanya oleh malaikat”

BATIK: “Ha…ha….kamu akan masuk tanah membungkusi bangkai manusia lalu akan dikerumunin cacing-cacing….”

KAFAN: “Tidak apa-apa, aku merasa lebih beruntung dari kamu. Aku tidak akan merasakan sakitnya dijahit, tidak akan pernah merasakan betapa tersiksanya di dalam mesin cuci dikucek-kucek, diperes. Tidak sampai di situ penderitaanmu. Kamu akan dipanggang di bawah terik matahari, setelah kering kamu akan dihaluskan dengan setrika…”

BATIK: (masih ngeyel dan sombong) “Pepatah mengatakan bersakit sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Setelah penderitaan yang kamu sebutkan tadi aku akan jadi busana yang bisa membuat orang terkagum kagum. Sedang kamu akan ditelan BUMI bersama bangkai manusia. Selain itu aku tidak akan pernah masuk kubur. Soalnya belum denger tuh orang mati pake BATIK……”

KAFAN: “Kamu lupa saudaraku??? Bahwa manusia cepat sekali bosan. Entah 2 bulan,6 bulan atau 1 tahun. Kamu akan dicampakkan oleh manusia. Setelah warnamu pudar atau jahitanmu sobek. Kamu hanya akan menjadi sampah yang berada di antara tumpukkan sampah yang baunya busuk dan dibakar. Atau tidak jarang juga manusia menggunakanmu untuk membersihkan kotoran.”

BATIK: “Arrrrrrrrrgggghhhhhhhhhh……diam jangan bicara lagi!!!!!!!!!!!!!”


Sahabat Hikmah…
Janganlah sombong dengan kecantikan fisik dan limpahan materi.
Kita tidak berhak merendahkan orang lain.
Bahwa Tuhan tidak melihat manusia berdasar fisik dan kekayaan,
Tapi amal kebaikan dan manfaat kita untuk orang lain.
Dan jadilah manusia yang berguna untuk orang lain dalam hal kebaikan.


Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi:
“Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Oleh karena itu, barang siapa mengambilnya dari-Ku berperilaku dengan salah satu dari keduanya, maka Aku akan mencampakkannya ke neraka. - HR. Abu Dawwud dari Abu Hurairah ra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

pengunjung online

Open Cbox

Twitter

Pengikut

 

ans!!